Selasa, 29 Juli 2008

Korupsi... termasuk kebudayaan??

Morning-morning, bosku pak JC sudah 'nyamperin' meja bu DP -yang memang dikenal sebagai 'curhat counter', tempat semua orang numpahin uneg-uneg, mulai dari OB sampai BB (biggest boss)-. Beliau 'ngejembrengin' halaman pertama KOMPAS, yang memuat tentang terkuaknya korupsi 52 anggota DPR. (Cuma 52? komentarku).
Menurut bu DP, mungkin buat ke 52 orang itu -dan lainnya yang tidak dimuat di Kompas, mungkin termasuk ente- apa yang mereka lakukan tidak disadari sebagai korupsi, cuma sudah kebiasaan turun-temurun dari pejabat terdahulu. Jadi sudah menjadi semacam budaya gitu lah.
Kamu sendiri, kalau kebetulan baru saja diangkat menduduki jabatan baru, terus ada orang datang mengirim upeti, sambil bilang "Terima aja pak, biasa kok, bapak yang dulu juga biasa begini", apa kamu akan menolak? Kan gak minta, wong dikasih kok..
Memang harus ada batasan yang jelas, mana yang termasuk korupsi, mana yang bukan.
Dan hukumannya harus berat. Minimal seumur hidup.
Tapi siapa yang berani membuat peraturan? Bisa jadi yang sebenarnya berkuasa membuat peraturan ternyata punya pikiran begini, 'Kalau aku sendiri yang terkena hukum ini bagaimana?'.. Karena, siapa sih yang berani mengaku dirinya bersih samasekali dari aroma korupsi?

Tidak ada komentar: